PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENDALAM
RPP PERTEMUAN 3 DARI 6
| Sekolah | SMA NEGERI 1 PARENGAN TUBAN |
| Nama Guru | Dra. Umi Hanik Hartatik |
| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
| Kelas/Semester | X / Genap |
| Alokasi Waktu | 2 JP (90 menit) |
IDENTIFIKASI
| Peserta Didik | Peserta didik memiliki beragam tingkat pemahaman awal mengenai kebinekaan dan modal sosial. Minat terhadap topik ini dapat dipetakan melalui observasi saat apersepsi dan pertanyaan awal. Kebutuhan belajar yang berbeda akan diakomodasi melalui variasi aktivitas dan dukungan diferensiasi saat kerja kelompok. |
| Materi Pelajaran | Materi tentang "Mengelola kebinekaan sebagai modal sosial pembangunan" melibatkan konsep sosial, budaya, dan ekonomi. Relevansinya dengan kehidupan nyata sangat tinggi melalui contoh-contoh di lingkungan sekolah dan masyarakat. Tingkat kesulitan materi moderat, membutuhkan pemahaman analisis. Potensi miskonsepsi meliputi menyamakan kebinekaan dengan konflik atau menganggap modal sosial hanya bersifat ekonomi. Integrasi nilai kejujuran, kolaborasi, dan toleransi sangat relevan. |
| Dimensi Profil Lulusan (DPL) | Kewargaan, Kolaborasi, Komunikasi |
| Capaian Pembelajaran | Bhinneka Tunggal Ika: Menyajikan makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai modal sosial; dan memahami prinsip gotong royong sebagai perwujudan sistem ekonomi Pancasila yang inklusif dan berkeadilan. Negara Kesatuan Republik Indonesia: Memahami peran dan kedudukannya sebagai warga Negara Indonesia; memahami sistem pertahanan dan keamanan negara; menganalisis peran Indonesia dalam hubungan antarnegara; serta memahami nilai-nilai Pancasila dalam konteks pembangunan nasional. |
DESAIN PEMBELAJARAN
| Lintas Disiplin Ilmu | Pemahaman tentang kebinekaan sebagai modal sosial pembangunan dapat diperkaya melalui analisis data statistik kependudukan dan sosial ekonomi di Tuban, yang memanfaatkan literasi data dasar. Keterampilan berpikir komputasional dalam memecahkan masalah kebinekaan, serta pemahaman dasar tentang bagaimana data dapat diolah menggunakan algoritma sederhana dalam KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial), akan memperkuat pemahaman konsep. Selain itu, mengaitkan konsep modal sosial dengan ketahanan pangan lokal di Tuban, seperti pemanfaatan hasil pertanian yang beragam atau sistem distribusi yang adil, memberikan dimensi praktis melalui Program SIKAP (Sistem Ketahanan Pangan) SMAN 1 Parengan Tuban. |
| Tujuan Pembelajaran | Peserta didik mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip pengelolaan kebinekaan dalam simulasi dialog antarbudaya untuk menciptakan harmoni sosial di lingkungan sekolah. |
| Topik Pembelajaran | Mengelola kebinekaan sebagai modal sosial pembangunan: Studi Kasus Harmoni Antarbudaya di Sekolah. |
| Praktik Pedagogis | Model: Cooperative Learning. Pemilihan model ini didasarkan pada kebutuhan peserta didik untuk aktif berkolaborasi dalam kelompok, saling belajar, dan bertanggung jawab atas pencapaian kelompok. Strategi: Pembelajaran berbasis masalah dan simulasi. Metode: Diskusi kelompok, Simulasi dialog, Presentasi singkat. Penerapan Sintaks Model: 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan gambaran menarik tentang pentingnya harmoni dalam kebinekaan. 2. Menyajikan informasi/stimulus: Guru menyajikan studi kasus singkat tentang potensi konflik dan solusi harmonisasi antarbudaya di lingkungan sekolah. 3. Mengorganisasikan kelompok: Peserta didik dibagi menjadi kelompok heterogen untuk mendiskusikan studi kasus. 4. Membimbing kerja dan kolaborasi: Guru memfasilitasi diskusi kelompok, memberikan pertanyaan pancingan, dan memantau keterlibatan serta kerja sama anggota. 5. Evaluasi hasil belajar: Kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan simulasi dialog mereka. 6. Apresiasi dan refleksi: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan hasil kerja kelompok, serta memfasilitasi refleksi. |
| Kemitraan Pembelajaran | Kolaborasi dengan guru Bimbingan Konseling dapat membantu memfasilitasi diskusi yang lebih mendalam mengenai dinamika antarbudaya di kalangan siswa. Dukungan dari orang tua melalui informasi mengenai pentingnya menghargai keberagaman juga dapat memperkuat pemahaman siswa di rumah. |
| Lingkungan Pembelajaran | Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas yang diatur untuk mendukung kerja kelompok. Lingkungan digital dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi tambahan mengenai keragaman budaya Indonesia. Budaya belajar yang aman dan inklusif mendorong setiap siswa untuk berpendapat tanpa takut dihakimi. |
| Pemanfaatan Digital | Penggunaan proyektor untuk menampilkan studi kasus dan video singkat. Peserta didik dapat menggunakan gawai untuk mencari informasi tambahan terkait budaya atau contoh kasus harmonisasi. |
PENGALAMAN BELAJAR
| Tahap | Prinsip Pembelajaran Mendalam | Aktivitas Guru | Aktivitas Murid | Alokasi Waktu | Bukti Belajar |
|---|---|---|---|---|---|
| AWAL | Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan | Memberikan salam, berdoa, memeriksa kehadiran. Melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan tentang pengalaman siswa berinteraksi dengan teman dari latar belakang berbeda. Menjelaskan tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian secara singkat dan jelas. Memotivasi dengan cerita singkat tentang pentingnya harmoni di sekolah. | Menjawab salam, berdoa, merespon pertanyaan apersepsi dengan antusias, menyimak tujuan dan kriteria. | 15 menit | Kehadiran siswa, respon siswa terhadap apersepsi. |
| INTI - MEMAHAMI | Berkesadaran, Bermakna | Menyajikan studi kasus singkat mengenai potensi gesekan antarbudaya di sekolah dan bagaimana hal itu dapat dihindari atau diselesaikan. Membagi siswa ke dalam kelompok heterogen (4-5 orang). Memandu kelompok untuk menganalisis studi kasus, mengidentifikasi akar masalah, dan mencari solusi konkret. Memberikan pertanyaan pemantik untuk mendorong diskusi mendalam. | Membaca dan memahami studi kasus. Berdiskusi dalam kelompok untuk menganalisis penyebab potensi konflik dan merumuskan langkah-langkah harmonisasi. Mencatat hasil diskusi. | 30 menit | Hasil diskusi kelompok (catatan poin-poin analisis dan solusi). |
| INTI - MENGAPLIKASI | Bermakna, Menggembirakan | Meminta setiap kelompok untuk mensimulasikan dialog singkat antarbudaya berdasarkan studi kasus yang telah didiskusikan, fokus pada penyelesaian masalah dan penciptaan pemahaman bersama. Memberikan arahan agar dialog mencerminkan prinsip saling menghargai dan mencari titik temu. Memfasilitasi kelompok untuk mempersiapkan presentasi singkat hasil simulasi. | Melakukan simulasi dialog antarbudaya dalam kelompok, berperan sebagai individu dari latar belakang berbeda yang berinteraksi. Menyusun poin-poin penting dari simulasi untuk dipresentasikan. | 25 menit | Observasi partisipasi siswa dalam simulasi dialog. |
| INTI - MEREFLEKSI | Berkesadaran, Bermakna | Memfasilitasi presentasi singkat perwakilan kelompok mengenai hasil simulasi dialog dan pembelajaran yang didapat. Memberikan umpan balik konstruktif terhadap simulasi dan partisipasi siswa. Mengajukan pertanyaan reflektif: "Apa tantangan terbesar dalam dialog tadi?", "Bagaimana cara Anda memastikan semua suara terdengar?". Meminta siswa untuk mengaitkan pelajaran hari ini dengan konsep KKA dan SIKAP, misalnya bagaimana analisis data sederhana bisa membantu memahami keragaman atau bagaimana kerjasama dalam produksi pangan lokal (SIKAP) membutuhkan dialog yang baik. | Mempresentasikan hasil simulasi singkat. Menyimak umpan balik guru dan presentasi kelompok lain. Menjawab pertanyaan reflektif. Mengaitkan materi dengan KKA (misal: data keragaman) dan SIKAP (misal: dialog dalam pengelolaan sumber daya). | 10 menit | Catatan guru saat observasi presentasi dan respon reflektif siswa. |
| PENUTUP | Menggembirakan, Bermakna | Memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok atas partisipasi aktif dan pembelajaran yang dicapai. Merangkum poin-poin kunci mengenai pentingnya mengelola kebinekaan sebagai modal sosial. Memberikan penguatan materi dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya. Mengucapkan terima kasih dan salam penutup. | Menyimak rangkuman guru. Menerima apresiasi. Menyiapkan diri untuk pembelajaran selanjutnya. | 10 menit | Partisipasi siswa dalam kegiatan penutup. |
ASESMEN PEMBELAJARAN
| Asesmen pada Awal Pembelajaran |
Tujuan: Mengukur pemahaman awal siswa tentang kebinekaan dan pengalaman berinteraksi. Bentuk/Instrumen: Pertanyaan lisan. Teknik: Tanya jawab. Bukti yang Dinilai: Tingkat pemahaman awal siswa tentang konsep kebinekaan. Kriteria Keberhasilan: Siswa dapat memberikan respon yang relevan dan menunjukkan tingkat pemahaman awal yang bervariasi. Tindak Lanjut: Guru memetakan pemahaman awal siswa untuk penyesuaian strategi pembelajaran. (Assessment for Learning) |
| Asesmen pada Proses Pembelajaran |
Tujuan: Menilai pemahaman konsep, kemampuan analisis, kolaborasi, dan keterampilan komunikasi siswa selama diskusi dan simulasi. Bentuk/Instrumen: Lembar observasi, pertanyaan terarah saat diskusi. Teknik: Observasi, pertanyaan formatif. Bukti yang Dinilai: Keterlibatan dalam diskusi, kualitas argumen, kemampuan bekerja sama, kejelasan komunikasi saat simulasi. Kriteria Keberhasilan: Siswa aktif berpartisipasi, memberikan kontribusi ide yang relevan, bekerja sama dengan baik, dan menyampaikan gagasan secara jelas. Tindak Lanjut: Guru memberikan umpan balik langsung kepada kelompok atau individu untuk perbaikan. (Assessment for Learning & Assessment as Learning) |
| Asesmen pada Akhir Pembelajaran |
Tujuan: Menilai kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep kebinekaan melalui simulasi dialog dan refleksi. Bentuk/Instrumen: Penilaian partisipasi simulasi, respon reflektif. Teknik: Observasi partisipasi, tanya jawab reflektif. Bukti yang Dinilai: Kemampuan siswa memerankan dialog antarbudaya, kemampuan merespon pertanyaan reflektif, dan mengaitkan materi dengan KKA/SIKAP. Kriteria Keberhasilan: Siswa mampu menunjukkan pemahaman dalam simulasi dan memberikan respon reflektif yang bermakna. Tindak Lanjut: Guru memberikan umpan balik akhir dan catatan penguatan. (Assessment of Learning & Assessment for Learning) |
RUBRIK PENILAIAN
Tujuan Pembelajaran yang Dinilai: Peserta didik mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip pengelolaan kebinekaan dalam simulasi dialog antarbudaya untuk menciptakan harmoni sosial di lingkungan sekolah.| Indikator | Baru Memulai | Berkembang | Cakap | Mahir |
|---|---|---|---|---|
| Partisipasi dalam Simulasi Dialog | Diam atau hanya sedikit berbicara dalam simulasi. | Berbicara sesekali, namun kurang aktif dalam membangun dialog. | Aktif berpartisipasi dalam dialog, menyampaikan gagasan dengan jelas. | Memimpin dialog, mendorong partisipasi anggota lain, dan menawarkan solusi konstruktif. |
| Kemampuan Menyampaikan Gagasan | Gagasan sulit dipahami atau tidak relevan. | Gagasan disampaikan, namun kurang jelas atau kurang terstruktur. | Mampu menyampaikan gagasan yang relevan dan cukup terstruktur. | Menyampaikan gagasan yang orisinal, relevan, terstruktur dengan baik, dan persuasif. |
| Sikap Menghargai Perbedaan | Menunjukkan sikap tidak peduli atau meremehkan perbedaan pendapat. | Mendengarkan pendapat orang lain, namun belum sepenuhnya menunjukkan penghargaan. | Menunjukkan sikap menghargai perbedaan pendapat dan berusaha mencari pemahaman bersama. | Secara konsisten menunjukkan sikap empati, pengertian, dan penghargaan terhadap keberagaman dalam dialog. |
| Refleksi dan Keterkaitan Materi | Tidak dapat memberikan respon reflektif atau mengaitkan dengan materi. | Memberikan respon reflektif sederhana, namun kurang mendalam atau kurang terkait materi. | Mampu memberikan respon reflektif yang relevan dan mengaitkan dengan konsep kebinekaan. | Memberikan refleksi mendalam, mampu mengaitkan dengan konsep KKA/SIKAP secara logis dan memberikan contoh konkret. |
- Baru Memulai: Pemahaman/keterampilan sangat dasar.
- Berkembang: Mulai berkembang tetapi masih perlu perbaikan.
- Cakap: Baik dan sesuai harapan.
- Mahir: Sangat baik dan melebihi harapan.
|
Mengetahui, Kepala Sekolah |
Tuban, Januari 2027 Guru Mata Pelajaran |
|
Amirul Faisal Rizza, M.Pd. NIP. •••••••••••••••• |
Dra. Umi Hanik Hartatik NIP. •••••••••••••••• |