IDENTITAS RPP
| Sekolah | SMA NEGERI 1 PARENGAN TUBAN |
| Nama Guru | Dra. Umi Hanik Hartatik |
| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
| Kelas/Semester | XII / Ganjil |
| Alokasi Waktu | Pertemuan 4 dari 5 · 2 JP (90 menit) |
IDENTIFIKASI
| Peserta Didik | Peserta didik kelas XII umumnya memiliki pengetahuan awal yang cukup tentang konsep hak dan kewajiban warga negara. Minat belajar dapat dipetakan melalui observasi keterlibatan dalam diskusi sebelumnya dan pertanyaan pemantik terkait isu-isu terkini. Kebutuhan belajar difokuskan pada pengembangan kemampuan analisis kritis dan solusi inovatif. Pemetaan dilakukan melalui observasi awal saat diskusi dan pertanyaan terbuka di awal pembelajaran. |
| Materi Pelajaran | Materi tentang generasi solutif mengatasi pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban merupakan materi esensial yang relevan dengan kehidupan nyata peserta didik sebagai calon pemimpin bangsa. Tingkat kesulitannya moderat, membutuhkan pemahaman konsep dan kemampuan analisis. Struktur materi berfokus pada identifikasi masalah, analisis penyebab, dan perumusan solusi. Potensi miskonsepsi terkait pemahaman hak dan kewajiban secara parsial atau mengabaikan konteks sosial. Integrasi nilai-nilai Pancasila, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sangat ditekankan. |
| Dimensi Profil Lulusan (DPL) | Kreativitas, Kewargaan, Penalaran Kritis |
| Capaian Pembelajaran | Elemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: Menganalisis kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara dan merumuskan solusi dari permasalahan tersebut sebagai upaya perlindungan hukum. |
DESAIN PEMBELAJARAN
| Lintas Disiplin Ilmu | Pembahasan mengenai generasi solutif dalam mengatasi pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban sangat relevan dengan literasi data untuk menganalisis tren kasus, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk riset solusi. Penguasaan konsep KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) dapat mendukung perancangan sistem peringatan dini pelanggaran hak, sementara pemahaman terkait Program SIKAP (Sistem Ketahanan Pangan) SMAN 1 Parengan Tuban dapat memberikan perspektif solusi berbasis ketahanan pangan lokal dalam konteks pengingkaran kewajiban terhadap masyarakat. |
| Tujuan Pembelajaran | Pada akhir pembelajaran Pertemuan 4, peserta didik mampu merumuskan minimal dua strategi konkret sebagai generasi solutif untuk mengatasi kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara yang spesifik di lingkungan sekitar, dengan menyertakan argumen yang logis dan contoh penerapannya. |
| Topik Pembelajaran | Generasi Solutif Mengatasi Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban |
| Praktik Pedagogis | Model: Project Based Learning (PBL) Strategi: Pendalaman dan pengaplikasian konsep melalui simulasi kasus dan proyek mini. Metode: Simulasi Kasus, Debat Terstruktur, Proyek Mini. Alasan Pemilihan: Model PBL dipilih karena mendorong peserta didik untuk secara aktif mencari solusi atas permasalahan nyata, sesuai dengan fokus pertemuan untuk pendalaman dan pengaplikasian konsep. Metode simulasi kasus dan proyek mini memungkinkan peserta didik untuk berlatih berpikir kritis dan kreatif dalam merumuskan solusi. Penerapan Sintaks Model (Fokus Pertemuan 4): - Memonitor proses serta kemajuan proyek: Guru memantau perkembangan peserta didik dalam merumuskan solusi pada proyek mini. - Menguji dan mempresentasikan hasil: Peserta didik mempresentasikan draf solusi atau rancangan proyek mini. - Mengevaluasi serta merefleksikan pengalaman proyek: Guru memfasilitasi refleksi terhadap proses perumusan solusi dan tantangan yang dihadapi. |
| Kemitraan Pembelajaran | Dukungan dari guru BK dapat dimanfaatkan untuk mendalami aspek psikologis dan sosial dari pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban. Kerjasama dengan perpustakaan sekolah atau sumber belajar digital akan membantu peserta didik dalam riset kasus dan pencarian referensi solusi yang relevan. |
| Lingkungan Pembelajaran | Pembelajaran dilaksanakan di ruang kelas yang kondusif dengan memanfaatkan sumber belajar digital yang tersedia. Budaya belajar yang aman dan inklusif mendorong partisipasi aktif dan saling menghargai pendapat peserta didik. |
| Pemanfaatan Digital | Peserta didik akan menggunakan gawai untuk mencari informasi kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban terkini, serta riset ide-ide solusi inovatif. Platform kolaborasi digital dapat digunakan untuk diskusi kelompok dalam merancang proyek mini. |
PENGALAMAN BELAJAR
| Tahap | Prinsip Pembelajaran Mendalam | Aktivitas Guru | Aktivitas Murid | Alokasi Waktu | Bukti Belajar |
|---|---|---|---|---|---|
| AWAL (15 menit) |
Bermakna: Mengaitkan materi dengan isu terkini. Menggembirakan: Suasana interaktif dan apresiatif. |
Memberikan salam, menyapa, dan memeriksa kehadiran. Melakukan apersepsi dengan menayangkan berita singkat tentang kasus pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban yang sedang hangat. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian pertemuan ini. | Menjawab salam, merespon apersepsi dengan bertanya atau berkomentar. Memperhatikan penjelasan tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian. | 15 menit | Keaktifan dalam merespon apersepsi. |
| INTI - MEMAHAMI (30 menit) |
Berkesadaran: Fokus pada analisis mendalam. Bermakna: Mengaitkan teori dengan kasus nyata. |
Memfasilitasi diskusi kelompok kecil untuk menganalisis studi kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban yang telah disiapkan. Memberikan panduan melalui pertanyaan kunci terkait penyebab, dampak, dan pihak yang terlibat. Mengarahkan peserta didik untuk mulai mengidentifikasi potensi solusi awal. | Bekerja dalam kelompok untuk menganalisis studi kasus. Mengidentifikasi unsur-uns pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban. Mendiskusikan potensi penyebab dan dampak. Mencatat ide-ide awal solusi. | 30 menit | Hasil analisis studi kasus per kelompok. |
| INTI - MENGAPLIKASI (35 menit) |
Bermakna: Merancang solusi konkret. Menggembirakan: Kolaborasi dan kreativitas. |
Membimbing peserta didik dalam merumuskan proyek mini atau simulasi aksi nyata sebagai generasi solutif. Memberikan umpan balik konstruktif terhadap draf solusi yang diajukan kelompok. Mengingatkan tentang pentingnya KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) dalam mengembangkan alat bantu digital untuk solusi, serta relevansinya dengan Program SIKAP (Sistem Ketahanan Pangan) SMAN 1 Parengan Tuban jika ada solusi yang terkait. | Merumuskan draf solusi atau rancangan proyek mini secara kolaboratif. Mengintegrasikan ide pemanfaatan teknologi sederhana atau konsep ketahanan pangan lokal dalam solusi jika relevan. Mempresentasikan draf solusi di depan kelompok kecil dan menerima umpan balik. | 35 menit | Draf solusi/rancangan proyek mini. |
| INTI - MEREFLEKSI (10 menit) |
Berkesadaran: Menilai proses dan hasil. Bermakna: Pembelajaran dari pengalaman. |
Memandu sesi refleksi singkat mengenai kesulitan yang dihadapi dalam merumuskan solusi, ide-ide yang paling efektif, dan pembelajaran yang didapat. Memberikan apresiasi atas usaha dan partisipasi peserta didik. | Menyampaikan kesulitan yang dihadapi, ide solusi yang paling menonjol, dan pelajaran yang didapat dari proses perumusan solusi. | 10 menit | Partisipasi dalam refleksi kelas. |
| PENUTUP (0 menit) |
Menggembirakan: Menghargai proses. | (Tidak ada alokasi waktu khusus, terintegrasi dalam refleksi dan penutup sesi inti) | (Terintegrasi dalam refleksi dan penutup sesi inti) | 0 menit | Kehadiran dan partisipasi aktif. |
| Total Alokasi Waktu | 90 menit | ||||
ASESMEN PEMBELAJARAN
| Asesmen pada Awal Pembelajaran | Tujuan Asesmen: Memetakan pemahaman awal peserta didik tentang konsep pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban. Bentuk/Instrumen: Pertanyaan pemantik lisan. Teknik: Tanya Jawab. Bukti yang Dinilai: Tingkat pemahaman konsep awal, kemampuan mengidentifikasi contoh. Kriteria Keberhasilan: Peserta didik mampu memberikan minimal satu contoh pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban. Tindak Lanjut: Memberikan penguatan konsep dasar jika diperlukan. |
| Asesmen pada Proses Pembelajaran | Tujuan Asesmen: Menilai pemahaman mendalam dan kemampuan analisis kelompok dalam mengidentifikasi masalah serta merumuskan solusi. Bentuk/Instrumen: Observasi diskusi kelompok, pertanyaan formatif. Teknik: Observasi, Tanya Jawab. Bukti yang Dinilai: Keterlibatan dalam diskusi, kualitas argumen, kelengkapan analisis studi kasus, ide solusi yang diajukan. Kriteria Keberhasilan: Kelompok mampu menganalisis studi kasus dengan baik dan merumuskan draf solusi yang relevan. Tindak Lanjut: Memberikan umpan balik konstruktif dan bimbingan untuk perbaikan draf solusi. |
| Asesmen pada Akhir Pembelajaran | Tujuan Asesmen: Menilai kemampuan peserta didik dalam merumuskan solusi sebagai generasi solutif. Bentuk/Instrumen: Draf solusi/rancangan proyek mini, presentasi kelompok. Teknik: Penilaian Kinerja (presentasi), Penilaian Produk (draf solusi). Bukti yang Dinilai: Kelogisan argumen, kekonkretan strategi, kreativitas solusi, kematangan draf. Kriteria Keberhasilan: Peserta didik mampu merumuskan minimal dua strategi konkret yang logis dan beralasan. Tindak Lanjut: Memberikan umpan balik umum dan mengarahkan pada pertemuan berikutnya untuk penyempurnaan. |
RUBRIK PENILAIAN
Tujuan Pembelajaran yang Dinilai: Peserta didik mampu merumuskan minimal dua strategi konkret sebagai generasi solutif untuk mengatasi kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara yang spesifik di lingkungan sekitar, dengan menyertakan argumen yang logis dan contoh penerapannya.| Indikator | Baru Memulai | Berkembang | Cakap | Mahir |
|---|---|---|---|---|
| Kemampuan Mengidentifikasi Kasus Spesifik | Kesulitan mengidentifikasi kasus pelanggaran hak atau pengingkaran kewajiban yang relevan dengan lingkungan sekitar. | Mampu mengidentifikasi satu kasus spesifik, namun kurang detail atau relevansinya lemah. | Mampu mengidentifikasi minimal satu kasus spesifik yang relevan dengan lingkungan sekitar dan cukup detail. | Mampu mengidentifikasi beberapa kasus spesifik yang relevan, detail, dan menunjukkan pemahaman mendalam terhadap konteks lokal. |
| Perumusan Strategi Solutif | Gagasan solusi sangat umum, tidak konkret, atau tidak realistis. | Mampu merumuskan satu strategi yang cukup konkret, namun kurang mendalam atau argumennya lemah. | Mampu merumuskan minimal dua strategi konkret yang logis dan relevan dengan kasus yang diidentifikasi. | Mampu merumuskan lebih dari dua strategi yang inovatif, konkret, logis, dan menunjukkan pemikiran kreatif serta antisipatif. |
| Kelogisan Argumen dan Contoh Penerapan | Argumen tidak jelas, tidak logis, atau tidak disertai contoh. | Argumen cukup jelas namun kurang kuat, contoh penerapan terbatas atau kurang relevan. | Menyajikan argumen yang logis dan didukung oleh contoh penerapan yang relevan dan cukup memadai. | Menyajikan argumen yang sangat kuat, logis, dan didukung oleh contoh penerapan yang detail, inovatif, serta meyakinkan. |
| Kreativitas dan Inisiatif sebagai Generasi Solutif | Menunjukkan sedikit inisiatif, solusi cenderung pasif atau meniru. | Menunjukkan beberapa inisiatif, namun solusi yang ditawarkan masih perlu pengembangan lebih lanjut. | Menunjukkan kreativitas dalam merumuskan solusi dan memiliki inisiatif yang baik untuk bertindak sebagai agen perubahan. | Menunjukkan kreativitas dan inovasi yang tinggi, bertindak proaktif sebagai agen perubahan, dan mampu menginspirasi orang lain. |
- Baru Memulai: Pemahaman/keterampilan sangat dasar.
- Berkembang: Mulai berkembang tetapi masih perlu perbaikan.
- Cakap: Baik dan sesuai harapan.
- Mahir: Sangat baik dan melebihi harapan.
|
Mengetahui, Kepala Sekolah |
Tuban, Juli 2026 Guru Mata Pelajaran |
|
Amirul Faisal Rizza, M.Pd. NIP. •••••••••••••••• |
Dra. Umi Hanik Hartatik NIP. •••••••••••••••• |